Waspada Zat Berbahaya pada Makanan
"Makanan yang aman bukan hanya terlihat menarik, tetapi juga bebas dari bahan berbahaya yang dapat mengancam kesehatan."
Apa yang dimaksud dengan zat berbahaya pada makanan?
Zat berbahaya pada makanan adalah bahan kimia yang tidak diperbolehkan digunakan sebagai bahan tambahan pangan (BTP), tetapi disalahgunakan untuk mengawetkan, memperbaiki tekstur, atau memberikan warna pada makanan.
Berbeda dengan bahan tambahan pangan yang telah mendapatkan izin penggunaannya sesuai batas aman, zat berbahaya ini sama sekali tidak boleh dicampurkan ke dalam makanan karena dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius.
Mengapa masih ada penyalahgunaan zat berbahaya?
Beberapa alasan oknum produsen menggunakan bahan berbahaya, meski risikonya jauh lebih besar dari keuntungannya.
- Makanan menjadi lebih awet.
- Warna makanan terlihat lebih cerah sehingga menarik pembeli.
- Tekstur makanan menjadi lebih kenyal.
- Mengurangi kerugian akibat makanan cepat rusak.
- Harga bahan kimia relatif murah dibandingkan bahan pengawet atau pewarna pangan yang legal.
Jenis zat berbahaya yang sering ditemukan pada makanan
Empat zat berikut paling sering disalahgunakan pada makanan sehari-hari di pasar dan jajanan. Setiap zat dijelaskan pada kartu tersendiri di bawah ini.
Formalin
Larutan formaldehida — dipakai sebagai pengawet mayat, disinfektan, dan bahan industri. Bukan bahan tambahan pangan, sehingga dilarang digunakan dalam makanan.
Sering ditemukan pada tahu, mi basah, ikan segar, ayam potong, cumi-cumi, dan bakso.
Ciri-ciri yang perlu dicurigai
- Tidak mudah basi selama beberapa hari
- Tekstur lebih keras atau sangat kenyal
- Bau khas bahan kimia
- Tidak dihinggapi lalat
- Permukaan terlihat lebih mengilap
Dampak kesehatan
Jangka pendek — mual, muntah, diare, nyeri perut, iritasi tenggorokan.
Jangka panjang — kerusakan hati dan ginjal, gangguan pernapasan, berpotensi meningkatkan risiko kanker.
Boraks
Bahan kimia untuk industri keramik, deterjen, dan pembersih. Tidak boleh digunakan sebagai bahan tambahan makanan.
Sering ditemukan pada bakso, cilok, kerupuk, mi, lontong, dan ketupat.
Ciri-ciri yang perlu dicurigai
- Sangat kenyal
- Sulit dipotong
- Tidak mudah hancur
- Lebih tahan lama dari biasanya
Dampak kesehatan
Umum — gangguan lambung, hati, ginjal, dan saraf.
Berat — keracunan bila dikonsumsi dalam jumlah besar.
Rhodamin B
Pewarna sintetis untuk tekstil dan kertas — sering disalahgunakan pada makanan karena menghasilkan warna merah yang sangat mencolok.
Sering ditemukan pada kerupuk, sirup, es, saus, terasi, dan manisan.
Ciri-ciri yang perlu dicurigai
- Warna merah menyala
- Tampak mengilap
- Sulit luntur
- Meninggalkan noda pada tangan
Dampak kesehatan
Umum — gangguan hati dan ginjal, iritasi saluran cerna.
Berat — berpotensi menyebabkan kanker.
Metanil Yellow
Pewarna tekstil berwarna kuning yang tidak diperuntukkan bagi pangan.
Sering ditemukan pada tahu kuning, mi kuning, kerupuk, dan jajanan.
Ciri-ciri yang perlu dicurigai
- Warna kuning terlalu terang dan mencolok
- Warna tidak merata atau terlalu pekat
Dampak kesehatan
Umum — gangguan hati, saraf, dan pencernaan.
Berat — risiko kanker bila dikonsumsi terus-menerus.
Tabel ringkasan zat berbahaya
| Zat | Fungsi Asli | Sering Ditemukan | Ciri-ciri | Dampak |
|---|---|---|---|---|
| Formalin | Pengawet mayat, disinfektan | Tahu, mi basah, ikan, ayam | Awet, keras, bau kimia | Kerusakan hati/ginjal, risiko kanker |
| Boraks | Bahan industri | Bakso, cilok, kerupuk | Sangat kenyal, tak mudah hancur | Gangguan hati, ginjal, saraf |
| Rhodamin B | Pewarna tekstil | Sirup, kerupuk, saus | Merah mencolok | Gangguan hati, risiko kanker |
| Metanil Yellow | Pewarna tekstil | Mi kuning, tahu kuning | Kuning terang | Gangguan hati dan saraf |
Dampak zat berbahaya terhadap kesehatan
Dampak berbeda-beda tergantung jumlah yang dikonsumsi, lama paparan, usia, dan kondisi kesehatan seseorang.
Jangka Pendek
- Keracunan makanan
- Mual dan muntah
- Diare
- Nyeri perut
- Sakit kepala dan pusing
- Reaksi alergi
Jangka Panjang
- Gangguan fungsi hati
- Gangguan ginjal
- Penurunan sistem imun
- Gangguan sistem saraf
- Gangguan pertumbuhan pada anak
- Risiko kanker
Kelompok yang lebih rentan
Bayi, balita, anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, dan penderita penyakit kronis lebih berisiko mengalami dampak serius akibat zat berbahaya.
Cara memilih makanan yang aman
- 01
Pilih warna yang alami
Hindari makanan dengan warna terlalu terang atau mencolok.
- 02
Perhatikan aroma
Makanan yang aman tidak memiliki bau bahan kimia.
- 03
Periksa tekstur
Tekstur yang terlalu kenyal atau terlalu keras patut dicurigai.
- 04
Beli di tempat terpercaya
Belilah makanan dari penjual yang menjaga kebersihan dan kualitas produk.
- 05
Periksa kemasan
Pastikan kemasan tidak rusak, memiliki tanggal kedaluwarsa, izin edar, dan informasi produk yang lengkap.
Sebelum membeli makanan kemasan, biasakan menerapkan prinsip Cek KLIK:
Tips aman mengolah makanan
Cuci bahan makanan menggunakan air mengalir, simpan makanan pada suhu yang sesuai, dan masak hingga matang sempurna. Gunakan air bersih, pisahkan makanan mentah dan matang, serta hindari penggunaan wadah yang tidak layak untuk pangan.
Peran orang tua, pedagang, dan masyarakat
Orang Tua
- Membawakan bekal sehat
- Mengajarkan memilih jajanan bersih
- Menghindari jajanan berwarna mencolok
- Mengingatkan anak soal jajanan mencurigakan
Pedagang
- Menggunakan bahan pangan berkualitas
- Tidak memakai formalin, boraks, atau pewarna tekstil
- Menjaga kebersihan tempat usaha
- Menyimpan makanan dengan benar
Masyarakat
- Menjadi konsumen yang cerdas
- Tidak membeli makanan mencurigakan
- Melaporkan dugaan penyalahgunaan ke dinas terkait
- Mengedukasi keluarga dan lingkungan
Mitos dan fakta
Makanan yang awet berarti kualitasnya lebih baik.
Belum tentu. Makanan yang terlalu awet justru perlu dicurigai apabila tidak disimpan dengan teknologi yang tepat.
Bakso yang sangat kenyal pasti berkualitas.
Tekstur terlalu kenyal bisa jadi indikasi bahan yang tak semestinya, meski tidak selalu demikian.
Warna makanan semakin cerah semakin sehat.
Warna alami justru lebih aman dibandingkan warna yang terlalu mencolok.
Kalau tidak sakit setelah makan berarti aman.
Beberapa zat berbahaya menimbulkan efek jangka panjang yang baru muncul bertahun-tahun kemudian.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah semua makanan berwarna cerah berbahaya?
Tidak. Beberapa makanan menggunakan pewarna pangan yang telah diizinkan. Namun, warna yang terlalu mencolok tetap perlu diwaspadai.
Apakah formalin dapat hilang setelah dimasak?
Pemanasan dapat mengurangi kadar formaldehida bebas, tetapi tidak menjamin makanan menjadi aman. Makanan yang diduga mengandung formalin sebaiknya tidak dikonsumsi.
Bagaimana cara mengetahui makanan mengandung boraks?
Sulit dipastikan hanya dari tampilan. Makanan yang terlalu kenyal, sangat awet, dan tidak mudah hancur patut dicurigai. Pengujian laboratorium diperlukan untuk memastikan.
Apa yang harus dilakukan jika mengalami keracunan makanan?
Segera hentikan konsumsi makanan tersebut, minum air putih untuk mencegah dehidrasi bila memungkinkan, dan segera cari pertolongan medis apabila muncul gejala seperti muntah hebat, diare terus-menerus, nyeri perut berat, sesak napas, atau penurunan kesadaran.
Apakah anak-anak lebih rentan terhadap zat berbahaya?
Ya. Karena organ tubuh anak masih berkembang, paparan zat berbahaya dapat memberi dampak yang lebih besar dibandingkan orang dewasa.
Bagaimana cara melaporkan makanan yang diduga mengandung zat berbahaya?
Masyarakat dapat melaporkan kepada Dinas Kesehatan setempat, Balai Besar/Balai Pengawas Obat dan Makanan (BB/BPOM), atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya.
Kesimpulan
Keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama. Masyarakat perlu lebih waspada terhadap penggunaan zat berbahaya seperti formalin, boraks, Rhodamin B, dan Metanil Yellow yang masih ditemukan pada sebagian produk pangan. Dengan mengenali ciri-ciri makanan yang mencurigakan, menerapkan prinsip Cek KLIK, memilih makanan dari sumber yang terpercaya, serta melaporkan dugaan penyalahgunaan bahan berbahaya kepada pihak berwenang, kita dapat berkontribusi dalam melindungi kesehatan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Mulailah dari langkah sederhana: pilih makanan yang bersih, bergizi, aman, dan berasal dari produsen yang bertanggung jawab. Makanan yang sehat hari ini adalah investasi bagi kesehatan di masa depan.
Referensi resmi
- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Pedoman Keamanan Pangan dan Bahan Tambahan Pangan.
- BPOM RI. Cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, Kedaluwarsa).
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Keamanan Pangan bagi Masyarakat.
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang Bahan Tambahan Pangan.
- Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia mengenai Bahan Tambahan Pangan.
- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Food Safety – Safer Food for Better Health.
- Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Food Safety and Quality.